Selasa, 24 Februari 2015

LATIHAN MENULIS CERPEN


Musafir cinta
Berjalan menelusuri jalan setapak menuju kampusnya ia lakukan setiap hari. Melangkahkan kaki yang kian jauh. Romi tertatih-tatih dalam langkah kaki yang tak kian menepi. “Ya allah aku telah lelah dengan semua ini, berilah aku jalan untuk menemukan seseorang yang akan menjadi teman hidupku” ujarnya dalam hati. Semakin jauh ia menelusuri jalan itu, semakin goyah keyakinannya akan takdir cinta. Ia putus asa dengan kenyataan yang harus ia terima selama ini.  Umurnya yang semakin membawanya ke lembah kedewasaan yang tak kunjung menemukan pendamping hidupnya, membuatnya harus rela di ejek oleh teman-teman sekampusnya yang sebaya yang sudah menemukan pendamping hidup bahkan sudah memiliki anak.
Suatu ketika Billy, sahabat Romi menawarkan seorang perempuan muslimah yang telah lama menyukainya. Tetapi Romi tidak tahu akan hal itu. Perempuan tersebut  adalah Alisya. Alisya adalah mahasiswi S1  jurusan Bahasa Inggris tingkat akhir yang telah lama menaruh perasaan pada Romi.
“Romi, aku  punya temen. Dia cantik, muslimah, cerdas lagi. Dia udah lama suka sama kamu. Dia pernah bilang sama aku kalau dia pengin banget taarufan sama kamu. Tapi pas dia tahu kamu sempet mau dijodohin sama anak temen ayahmu dia tak pernah cerita-cerita lagi tentang perasaannya sama aku”, terang Billy.
“Hei Bill, yang benar saja kau. Aku ini kan bujangan lapuk mana mungkin ada yang suka sama aku..”, jelas Romi.
“Aku tak mengerti denganmu Rom. Kamu itu mahasiswa terkenal paling populer dikampus ini, kamu itu ganteng, pinter,  apa lagi yang kurang dari kamu???”, tanya Billy.
Romi hanya bisa menghela napas. Dalam hatinya dia sangat ingin tahu tentang perempuan itu. Tapi saat Billly bicara tentang taaruf, perasaannya langsung down. Ia merasa belum siap untuk bertaaruf dengan perempuan itu. Ia masih merasa kurang cukup tahu dalam ilmu agama.
Setelah Billy menceritakan semuanya pada Romi, Billy bergegas menemui Alisya yang sangat mengagumi Romi. Alisya yang saat itu sedang membaca buku diperpustakaan terkejut dengan kedatangan Billy.
“Assalamualaikum Alisya”, sapa Billy.
“Waalaikumsalam J”, jawabnya dengan senyuman
“Apa kabar Alisya, gimana dengan perasaanmu pada Romi, masih utuh???”, tanya Billy sambil menarik kursi  untuk ia duduki.
“Alhamdulillah Alisya kabarnya baik. Emm, soal perasaan Alisya sama kak Romi masih utuh. Alisya belum bisa gantiin posisi kak Romi di hati Alisya”, terang Alisya.
“Ohh. Alisya jaga hati Alisya aja yaa, mudah-mudahan kak Romi bisa buka hatinya buat Alisya”, harap Billy pada Alisya.
“Kak Romi kan udah dijodohin. Jadi enggak mungkin kak romi bisa buka hatinya buat wanita lain. Iya kan???”, ucapnya dengan kerutan dahi.
Billy menjawabnya degan tegas dan sambil tertawa. “hahaha... dijodohin?? itu sih udah lama dibatalin kali. Udah kamu tenang aja nanti aku yang bilang sama Romi”
Alisya hanya terdiam dan menyimpan sejuta tanya akan perjodohan Romi yang dibatalkan. Tetapi Alisya juga bersyukur karena lelaki yang ia cintai belum juga menikah berarti ia masih memiliki kesempatan untuk bersama dengan Romi.
Sebulan setelah berfikir panjang tentang perempuan yang Billy tawarkan padanya, kini ia penasaran juga. Ia menanyakan tentang perempuan yang telah lama menyukainya pada Billy. Dengan perasaan yang kian memuncak akan hausnya rasa cinta, ia mencoba untuk bertaaruf kembali setelah ia merasakan perihnya dikhianati oleh wanita yang sangat ia cintai dan ia sayangi.
Romi menemui Billy yang sedang sibuk menyelesaikan thesisnya di kamar.
“Bill, sebulan yang lalu kau pernah bilang padaku ada perempuan yang telah lama menyukaiku. Apa dia masih menyukaiku sampai sekarang???”, tanya Romi yang membuat Billy berhenti menekan keyboard komputernya.
“Hei kawan, kenapa baru saat ini kau tanyakan itu padaku. Perempuan itu sekarang masih nunggu kamu. Di setiap ia melangkah, ia selalu membayangkan jika saja kau ada disampingnya memegang tangannya, berjalan bersama menuju baitullah. Itu yang selama ini ia dambakan. Aku tahu banyak tentang perasaannya padamu karena dia tahu bahwa aku yang selalu bersamamu dan berharap aku bisa memberi tahu bahwa dirinya sangat mencintaimu, dan dia percaya kalau aku ini teman baikmu”, jelas Billy.
Romi terpaku dari apa yang baru saja sahabatnya bilang. ia bertanya pada Billy, “ bisakah kau beri tahu perempuan itu??”
“Tentu. Namanya Alisya, ia mahasiswi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Jurusan Bahasa Inggris dikampus kita. Sekarang ia sedang mendambakan kehadiranmu dalam hidupnya. Harapannya saat ini adalah bisa bertaaruf denganmu. Ayolah Rom, jangan terus terpuruk dengan masa lalumu. Aku yakin, dia adalah perempuan yang allah kirimkan untuk mendampingimu. Dia perempuan yang baik, cerdas dan muslimah. Apa kau akan menyia-nyiakannya begitu saja??” tanya Billy.
“Baik. Aku akan coba untuk bertaaruf dengannya. Aku mohon padamu, restui aku dengannya yaa..” jawab Romi.
“siip, pasti aku restui kamu Rom, good luck yaa...”, tegas Billy
Malam pun tiba. Karena hari ini Romi begitu lelah dengan aktivitasnya, memaksanya untuk menghempaskan tubuhnya pada ranjangnya. Ia menatap langit-langit kamar yang dipenuhi oleh ukiran-ukiran dari gift. Seraya ia berkata “Alisya, aku akan segera menjemputmu. Siapkah engkau untuk menjadi bidadari surgaku???”.
Bayangan indah wajah Alisya membuatnya tertidur pulas, walau sebenarnya ia tak tahu bagaimana wajah Alisya. Angin malam pun tak mau ketinggalan dengan bayangan wajah Alisya yang begitu menawan. Angin malam yang masuk melewati celah-celah kecil jendela kamarnya, membuatnya merasa tertusuk jarum yang semakin lama semakin merasuk kedalam tubuhnya. Ia terbangunkan oleh tusukan angin itu. Ia bangun lalu menuju ke kamar kecil untuk mengambil air wudhu dan melaksanakan shalat malam. Sebelum ia berdiri dan takbiratul ihram, ia bergumam, “Untuk kamu Alisya, aku harap saat ini kau juga akan melaksanakan shalat malam. Aku ingin kita shalat bersama aku menjadi imam dan kau menjadi makmumku,  amiin”.
Romi pun melaksanakan shalatnya dengan khusuk. Di akhir shalatnya, ia menaruhkan do’a dan harapannya kepada Allah atas perjalanannya sebagai musafir cinta yang ia harap akan berakhir hari ini dan menemui Alisya sebagai penggugur dari titlenya sebagai musafir cinta sejati.
“Ya Allah yang maha kuasa atas segala, aku mohon ampunan-Mu. Aku adalah hamba-Mu yang berlumur dosa, berilah aku ampunan-Mu ya Rabb. Ya Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Aku percaya akan semua janji-Mu. Aku percaya akan semua takdir-Mu. Maha suci Engkau yang meciptakan segala yang Kau kehendaki dengan penuh kesucian. Ya allah jika Kau ridhoi aku untuk menjadi pendampingnya, mudahkanlah aku untuk melangkahkan kakiku untuk menjemputnya. Tunjukan jalan-Mu untukku untuk mengkhitbahnya. Aku tahu bahwa aku belum pernah bertemu dengannya, bahkan aku baru tahu namanya kemarin siang tetapi aku sudah merindukannya dengan penuh keyakinan yang mendalam. Aku tahu hal ini sangat konyol, tapi aku percaya akan hal ini karena aku juga bisa mencintai Rasul-Mu Muhammad SAW tanpa aku melihat wajahnya sekalipun. Mudahkan urusanku ini ya Allah, amiin”.
Setelah shalatnya selesai ia segera merapikan tempat tidurnya dan melanjutkan pekerjaannya menulis thesis untuk mengakhiri kuliah S2-nya. Hingga pagi menjelang ia masih duduk dikursi kesayangannya.  Tak terasa waktu shalat subuh telah tiba. Ia bangkit dari kursinya dan segera mengambil air wudhu kembali untuk melaksanakan shalat subuh berjamaah dimushola dekat rumah kostnya.
Shalat subuh pun telah usai. Ia keluar dari masjiid dan melihat sesosok wanita yang sedang sibuk mencari-cari sandalnya di halaman mushola. Romi pun segera menghampirinya dan mencoba menyapa wanita itu dengan sopan.
“Permisi, Assalamualaikum”, sapa Romi dengan lembut.
Wanita itu adalah Alisya. Alisya sempat berhenti mencari-cari sandalnya yang hilang karena mendengar suara Romi yang sudah lama ia rindukan untuk menyapanya. Demi meyakinkan bahwa itu adalah Romi, Alisya pun berbalik badan dan menjawab salam Romi.
“waalaikumsalam”, jawab Alisya.
Melihat wajah yang begitu tampan dan bersinar itu, Alisya tak sanggup untuk menghentikan pandangannya pada Romi. Romi yang ia pandangi merasa heran kenapa wanita itu memandanginya setajam itu. Ia mencoba menyadarkan dirinya dari tatapan zinanya.
“Maaf, ada yang bisa saya bantu”, tawar Romi.
“Astaghfirullahaladzim, ma.. maaf mas, saya sedang mencari sandal saya yang lupa saya letakan dimana tadi”, jawab alisya dengan gugup.
“Apa itu bukan sandal anda?”, tanya Romi sambil menunjuk sebuah sandal dipojok pagar mushola.
“Oh iya.. terimakasih mas. Soalnya tadi saya tidak naruh sandal di pojok, tapi disini” ucap Alisya dengan senyuman termanisnya.
Melihat senyuman itu, Romi merasa bak melayang diudara yang kian tinggi tiada ujung. Romi terbengong-bengong cukup lama. Tak lama kemudian perasaannya semakin kuat akan perempuan yang ia cari yang bernama Alisya semakin dekat. Saat ia didekat Alisya jantugnya berdebuk kencang, begitupun dengan prasaan alisya. Ia merasa gugup saat berada didekat Romi. Merasakan kuatnya perasaan hatinya.
“Kenalkan, nama saya Romi. Anda?”tanya Romi dengan menyodorkan tangannya.
Dengan menyambut perasaan bahagia, Alisya pun menjawab pertanyaan Romi tanpa membalas sodoran tangan Romi karena bukan muhrimnya. “a...alissyyyaa J” jawabnya lembut.
Mendengar ucapannya, Romi meneteskan air mata. Tak pernah ia sangka pertemuannya dengan bidadari yang ia dambakan akan secepat ini. Ia bersyukur pada Allah karena Allah telah menunjukan akan keridhoannya untuk segera mengkhitbah Alisya.
“Kenapa kak Romi menangis??”, tanya Alisya.
“Aku merindukan kehadiranmu Alisya, maafkan aku tak pernah mengetahimu sejak lama. Maafkan aku yang membuatmu menunggu hingga selama ini. Maafkan aku Alisya. Apa kau masih mencintaiku?”, ucap Romi dengan penuh harap Alisya memberikan jawaban yang memuaskannya.
 “Apa kak?? Dari mana kakak tahu perasaanku yang aku simpan sejak lama pada kakak???”, tanya Alisya.
“Allah menunjukan jalannya padaku. Ayolah cepat jawab Alisya”, paksa Romi.
Alisya menghela napas panjang untuk menjawab pertanyaan Romi yang tak pernah ia bayangkan akan terucap dari mulutnya secepat ini.
“Heemmmhh.. aku akan jujur tentang perasaanku yang sekian lama aku pendam pada kakak. Aku tahu aku bukan siapa-siapa kakak. Bahkan baru kali ini akau kenalan sama kakak. Aku selama ini memperhatikan kakak dari jauh hingga muncul perasaan sayang dan cinta. Selama ini pula aku mengungkapkan isi hatiku pada  Billy teman baik kakak. Aku berharap kalau Billy mengungkapkan perasaanku pada kakak,  aku biasa tahu dimana aku bisa kuat bertahan mempertahankan cinta dan dimana aku putus asa akan usahaku. Aku tahu bahwa takdir ada ditangan Allah. Tapi apa salahnya kita mencoba mencari celah takdir itu. Aku masih mencintaimu kak, dan aku sangat merindukan kakak”, terangnya dengan suara lirih karena matanya yang membendung air mata keharuan.
Setelah mendengar jawaban yang Alisya lontarkan, ia merasa puas akan jawaban Alisya. Romi pun kembali bertanya. Dan pertanyaan ini cukup mengejutkan Alisya yang sedang mengusap air mata dipipinya.
“Apakah Alisya  masih ingin bertaaruf dengan kakak?”, tanya Romi.
Alisya terdiam sejenak. Dan menjawab “jika kakak mau bertaaruf dengan Alisya, Alisya tak lagi ingin bertaaruf dengan kakak. Apa kakak mau bertaaruf dengan Alisya???”
“Lho, kenapa Alisya ta mau bertaaruf dengan kakak??? Bukankah itu keinginan Alisya selamaini??”, tanya Romi penuh kebingungan.
“Jika kakak benar-benar mencintai Alisya, mau menerima Alisya dengan apa adanya, Alisya akan lebih siap untuk di khitbah daripada bertaaruf dengan kakak. Gimana kak?? J”, jawab Alisya sembari tersenyum pada Romi.
Tanpa pikir panjang, dan spontan Romi menjawab “Subhanallah.. aku siap Alisya.. Aku siappp..!!!
Terimakasih ya Allah, puji syukur atas petunjuk-Mu ya Rabb”.
Mendengar jawaban tersebut Alisya merasa bahagia. Dan keduanya meneteskan air mata keharuan yang menyelimuti indahnya mentari pagi yang Bersinar menyambut hari baru mereka melepas title “musafir cinta”.
Suasana yang mereka dambakan kian lama itu akhirnya terwujud. Tak ada batas lagi diantara mereka. Dalam waktu dua minggu  Romi dan Alisya memutuskan untuk menikah dan hidup bahagia seperti yang mereka harapkan dan cita-citakan yaitu membina keluarga yang sakinah mawaddah dan warahmah.

CONTOH CERPEN-PILIHAN YANG SALAH



PILIHAN YANG SALAH
Langit tak secerah biasanya. Gerimis menghampiri  kota Ciamis Manis. Hujan yang mengguyur kota Ciamis setiap siang hingga malam membuat jalanan licin dan terkadang macet karena kecelakaan lalu lintas. Susunan jalan kota yang teratur membuat kota Ciamis semakin terlihat indah. Kebersihan lingkungan jalanan lalu lintas yang selalu terjaga membuat pengguna jalan merasa nyaman.
Lita berdiri di sudut halte kampus.  Terlihat sedang menunggu angkot 02.  Namun waktu telah menunjukan pukul 18.15. Sedangkan angkot di kota Ciamis hanya beroperasi dari jam 05.00 pagi hingga jam 18.00 petang.  Hati Lita mulai resah dan gelisah. Lita takut ia tidak bisa pulang tepat waktu ke kostannya.
Waktu terus bergulir begitu saja. Lita masih tetap berdiri di sudut halte itu. tak ada seorangpun selain dirinya di halte. Beruntunglah dalam 15 menit menunggu, lewatlah angkot 02. Angkot itu melaju dengan cepat sehingga Lita bisa sampai di kostan tidak terlalu malam. Hatinya yang kering karena kegelisahan kini telah terbasuh oleh air hujan kelegaan.
Malam itu handphone Lita sepi. Biasanya setiap malam ada seseorang yang menemaninya dengan sms yang tak henti-hentinya. Ya. Rika. Rika adalah teman sekelas Lita yang selalu curhat tentang kedekatannya dengan salah satu dosen di kampusnya. Tapi sayang, walaupun Rika selalu menceritakan semua yang terjadi, Lita tidak pernah tahu siapa dosen yang dimaksud oleh Rika.
Satu sms akhirnya membunyikan handphone Lita. Dimas. Ya, nama itulah yang tertera dilayar handphone Lita, Dimas adalah Ketua Tingkat di kelas Lita. Dari sms itu, Dimas memberitahukan kepada Lita dan semua teman-temannya bahwa Pekan Indonesia Kreatif Bulan Bahasa akan dilaksanakan dalam beberapa minggu ke depan, dan selain Pekan Indonesia Kreatif Bulan Bahasa ada juga Seminar Nasional serta Ujian Praktek. Dari semua kegiatan itu dapat diakumulasikan membutuhkan dana sebesar tiga ratus lima puluh ribu rupiah.
Kedua mata Lita terpaku pada angka tiga ratus lima puluh ribu itu. Dengan Berulang-ulang Lita membaca sms itu. Lita berharap sms itu salah, karena untuk beberapa minggu ini dia tidak memiliki uang yang cukup banyak. Untuk pembayaran kuliah pun masih tidak cukup.
Semalam suntuk Lita memikirkan hal itu. namun Lita buntu untuk berfikir. Sempat terfikir dibenak Lita untuk bekerja di sebuah toko swalayan dan berharap dapat upah yang mampu memberinya kecukupan untuk kegiatan-kegiatan itu. namun terfikir juga, jikalau dirinya akan bekerja di sebuah swalayan, maka dia harus pindah kelas ke kelas karyawan. Sedangkan pemrosesan pemindahan kelas pun memakan waktu yang lama.
Hari berganti. Lita bergegas meluncur ke kampus dengan angkot 02 langganannya. Dengan langkah lambat Lita menuju ke ruang 19 tempat dirinya mendapat bimbingan dari dosen. Ruang kelas masih sepi. Tak ada satu pun mahasiswa yang telah duduk menempatkan diri di kursi kesayangan mereka.
Lita menempatkan diri di baris kedua dari depan. Bukan kursi kesayangannya, tetapi kali ini Lita ingin mempertanyakan sesuatu kepada Rika.
“Pagiiiiiii….” Sapa seseorang terdengar dari depan pintu. Rika lah yang menyapa Lita dari depan pintu itu, namun Lita tak juga menyahutinya. Lita masih memikirkan biaya yang memberatkan kepalanya.
“Heii… Masih pagi sudah melamun, kenapa Mbak Broo???”, Tanya Rika.
“Aaahh… Enggak. Aku mau tanya, kabar tentang Bulan Bahasa, Seminar Nasional, dan Ujian Praktek itu udah jelas atau belum?”
“Gue juga belum tau, kata KM-nya sih gitu. Belun jelas juga sih kapan pelaksanaannya. Emang kenapa?”
“Enggak.. Gak apa-apa. Nanya aja.” Jawab Lita singkat.
“Ohh, ya udah. Gue keluar bentar yahh… Biasa ada cair… Hehehe”
“Oh. Yaya…”
Rika berlalu dari ruang 19 menuju kantin Pak Ali, kantin langganan mahasiswa prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia atau sering dikenal Diksatrasia Caffe. Ditempat itu pula rika sering menemui dosen yang bernama Bayu Setiawan alias Dosen Ganteng plus Alay. Dosen muda yang jenius dan berpenampilan rapi. Pak Bayu adalah dosen mata kuliah Bahasa Jurnalistik untuk tingkat 2. Semua mahasiswa tingkat 2 mengenalnya, terutama mahasiswi-mahasiswi yang mendapat bimbingannya.
Di kantin itulah Rika mendapatkan uang bayaran dari Pak Bayu.  Entah hal apa yang telah dilakukan oleh Rika, sehingga mendapatkan upah dengan nominal yang sangat fantastis bagi mahasiswa tingkat 2.
Disisi lain Rika adalah seseorang yang menjabat sebagai sekretaris di kelasnya, wajar saja jika dirinya mendapatkan kedekatan dengan para dosen. Karena setiap ada sesuatu mengenai pembelajaran yang menyangkut kehadiran dan tugas, sekretaris adalah orang kedua yang di amanati untuk menyampaikan pesan dari dosen yang bersangkutan.
Setelah mendapatkan cairan dari Pak Bayu, Rika kembali ke kelasnya. Lita masih tetap duduk di baris nomor 2. Uang dalam amplop cokelat terbang kearah Lita, dan mengenai dadanya.
“Apaan nih???”, tanya lita dengan mengkerutkan dahi.
“Cairan dong..hahaha”, jawab rika dengan nada agak mengejek.
“Dari mana? Sejak kapan kamu kerja?”
“Udah sejak 3 bulan yang lalu. Kenapa?, Kaget yaa???, makanya ayo kerja bareng sama Gue. Gajinya gede lohh.”, Ajak Rika meyakinkan.
“Kerja apaan?, Halal gak?”
“Masalah kerjaan mah gampang, nanti gue yang ngatur lo. Oke?, pokoknya lo tinggal tau kerja aja lah.
Oh iya, mana nomor rekening lo. Nanti gue yang transfer uang kalo kerjaannya udah beres.”
Lita mencoba memikirkan dengan tawaran Rika. Lita mempertimbangkan segala kemungkinan yang terjadi. Kebutuhan Lita sudah mendesak dirinya ke arah kegelapan.
Uang yang di butuhkan untuk membiayai kuliahnya membuatnya resah dan gelisah setiap ditagih oleh pihak administrasi keuangan kampus. Nominal uang yang harus dibayarkannya mencapai lima juta tujuh ratus lima puluh ribu rupiah. Itu pun belum termasuk biaya kegiatan Bulan Bahasa, Seminar Nasional dan Ujian Praktek. Belum juga tagihan kost-kostan perbulannya tiga ratus lima puluh ribu rupiah. Hutang yang menumpuk membuat Lita bingung dan keteteran. Hutang dimana-mana.
Kondisi ekonomi yang melilit keluarga Lita kini semakin mempersulit keadaan Lita. Semua penderitaan itu bukanlah hal biasa bagi Lita. Dahulu saat Lita berada di atas segalanya, Lita tak pernah memberikan sedikit pun harta yang dimiliknya untuk orang-orang yang membutuhkan di sekitarnya. Lita tak pernah puas dengan apa yang ia miliki. Tetapi setelah ia merasakan kesulitan itu, Lita sudah mulai berfikir untuk bisa saling berbagi dan memberi terhadap sesama.
Waktu berjalan begitu saja. Tiga kegiatan yang memakan biaya tiga ratus lima puuh ribu rupiah itu telah di depan mata. Kegiatan itu akan dilaksanakan enam hari yang akan dating dan iaya paling lambat dibayarkan tiga hari sebelum hari-H. Tak ada alasan lagi untuk Lita menolak tawaran kerjasama dengan Rika. Lita menerima tawaran itu begitu saja, tanpa fikir panjang dan tanpa memikirkan segala kemungkinan buruk atas pekerjaannya.
Malam pun tiba, handphone Lita bordering. Saat itu Lita tengah menjinjing sebuah tas, dan berdiri di tepi jalan yang sepi dan hanya ada satu mobil terparkir didepan Lita. Terlihat di layar handphonnya nomor asing. Sms masuk dan memberikan pesan “Sekarang di depan anda ada mobil, masukan tas itu kedalam mobil dan anda langsung pergi”.
Lita melakukan hal itu dengan baik. Setelah memasukan tas yang dijinjingnya itu, Lita langsung berlari secepat ia mampu. Lita tidak mengetahui apa yang ada di adalam tas itu. Lita hanya melakukan apa yang diperintahkan oleh patner kerjanya. Ya, demi uang dan demi kuliah Lita melakukan hal itu. itulah kerja yang biasa Rika lakukan dengan Pak Bayu. Mengirimkan tas-tas yang di perintahkan dengan baik dan benar tanpa sepengetahuan orang lain.
Hari pembayaran Pekan Indonesia Kreatif Bulan Bahasa, Seminar Nasional dan Ujian Praktek tiba. Lita telah membayar semua kegiatan itu dengan lunas. Begitupun hutang kost-kostan dan kuliahnya. Kini hatinya lega, tidak ada hutang yang melilit dirinya dan memberatkan fikirannya.
Dihari itu pula ada suatu berita yang mengejutkan seantera kampus. Sirine yang terdengar sejak dari radius 1,5 km itu melaju dengar cepat. Mobil Polisi masuk ke halaman kampus dan parkir tepat di depan gedung Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Entah apa yang terjadi dengan kampus itu. semua panik dan keluar dari ruang kelas masing-masing.
Semua Polisi yang ada di mobil keluar dari mobil dan masuk ke gedung FKIP itu. memeriksa semua pegawai yang hadir. Ternyata tidak ditemukan orang yang mereka cari. Yang mereka cari adalah Pak Bayu Setiawan atau Dosen Ganteng plus Alay itu. Entah apa masalah yang melilitnya sehingga Polisi mencarinya. Tak ada satupun dosen dan pegawai yang mengetahui keberadaannya. Karena para dosen dan pegawai hanya tahu bahwa Pak Bayu itu telah pindah kerja ke suatu universitas di luar Pulau Jawa. Itulah pesan terakhir sebelum ada pengunduran diri dari beliau. Dan ternyata Dosen Bahasa Jurnalistik itu adalah salah satu buronan Polisi yang selama ini di cari. Beliau adalah salah satu pengedar Narkotika terbesar di kota Ciamis. Cara kerjanya itu adalah memasukan tas yang berisi Narkoba dan Zat Adiktif lainnya kepada mobil-mobil pengguna barang haram itu. dan mobil itu biasanya terparkir di sudut kota yang sepi.
Ya, itulah penjelasan yang Lita dan Rika dapatkan dari Dimas. Penjelasannya itu membuatnya menundukan kepala dan menangis. Hanya bisa menyesali semua perbuatan yang dilakukan. Kedua sahabat itu saling berpelukan dan berharap kepada Allah agar perbuatannya mendapatkan ampunan dari-Nya. Kedua sahabat itu saling berjanji untuk lebih berhati-hati dalam menerima pekerjaan dari seseorang.






RESENSI BUKU MERRY RIANA MIMPI SEJUTA DOLLAR




RESENSI KARYA NON-FIKSI
Judul                           : Merry Riana Mimpi Sejuta Dolar
Pengarang                   : Merry Riana
Penulis                         : Alberthine Endah
Penerbit                       : PT Gramedia Pustaka Utama
Tempat terbit               : Jakarta
Tahun terbit                 : Cetakan keempatbelas edisi cover film, Desember 2014
Jumlah halaman           : 362 halaman

            Buku karangan Merry Riana ini sangat menginspirasi para pembacanya untuk terus berusaha meraih kesuksesan yang diharapkan dan yang dicita-citakan. Saat ini Merry Riana merupakan wanita motivator No 1 di Indonesia karena kesuksesannya yang menginspirasi banyak orang baik di Singapura maupun di Indonesia.
            “Hidup adalah sesuatu yang bergerak. Kekuatan manusia bukanlah sesuatu yang statis. Tuhan menganugerahkan segala fitur pembangkit keberhasilan di dalam tubuh dan pikiran kita. Aku bersyukur karena menyadari itu sejak muda untuk meraih sukses.”
Petikan kalimat Merry Riana itu menjadi prolog buku karya Alberthine Endah. Merry Riana yang terlahir dari keluarga yang sederhana dari seorang ayah yang sangat penyayang dan dari seorang ibu yang penuh perhatian dan penuh kasih membawanya sulit untuk berada jauh dari keduanya.
Berawal dari Tragedi Trisakti tahun 1998, membawa Merry Riana terdampar di negeri orang. Keputusan untuk melanjutkan kuliah di Universitas Trisakti Jakarta tersebut harus pupus begitu saja karena keadaan yang tidak memungkinkan. Wilayah Jakarta yang saat itu sedang ada dalam kecaman, membuat semua orang merasa tidak tenang dan selalu dilanda kegelisahan. Ayahnya memutuskan untuk menyekolahkan Merry Riana di Nanyang Technological University (NTU) di negeri Singa, Singapura. Keputusan ayah adalah keputusan terbaik. Itulah harapan terakhir Marry Riana.
Dengan berat hati, Merry Riana harus pergi meninggalkan keluarga dan negara Indonesia yang sangat dicintainya. Tidaklah mudah untuk bisa bertahan hidup di negeri orang. Berjuang mempertahankan hidup dengan segala keterbatasan hidup dan keterbatasan ekonomi. Krisis ekonomi moneter yang melanda Indonesia membuatnya harus pandai mengatur biaya hidup di negeri Singa itu.
Kuliah hari pertama di NTU menyambutnya dengan peringatan jelas, betapa uang yang dimilikinya tidaklah berarti banyak. Uang yang dikeluarkan untuk pertama kalinya adalah saat ia memesan nasi goreng tanpa campuran apa-apa. Nasi goreng polos. Ia harus merelakan lembaran uang dolar pemberian ayahnya untuk membayar  nasi goreng dengan harga dua dolar atau setara dengan dua puluh ribu rupiah saat itu. Dua puluh ribu hanya untuk sepiring nasi goreng polos. Apalah arti 20 ribu rupiah. Tetapi bagi seorang mahasiswi dengan bekal uang pas-pasan dan dihadapkan pada tuntutan bertahan di masa yang akan panjang selama studi, itu adalah persoalan serius.
Merry Riana tidak bisa selamanya mengandalkan uang kiriman dari kedua orangtuanya. Dia menyadari bahwa kiriman dari orangtua tidak selamanya cukup untuk mencukupi kebutuhan kuliah dan kebutuhan pribadinya. Meskipun sudah berusaha berhemat, namun kebutuhan tidaklah selamanya statis. Maka dari itu, dengan niat yang kuat ia memutuskan untuk bekerja. Pekerjaan pertama yang ia terima adalah sebagai pembagi brosur. Meskipun upah yang diterimanya tidaklah seberapa, yaitu 5 dolar dalam waktu satu jam.
Dari pekejaan pertamanya, tidak memberikan rasa putus asa untuk Merry Riana terus bekerja dan bekerja. Ia pun pernah bekerja sebagai pelayan, kerja magang, menjadi sales, dan harus berjuang di jalanan hingga tengah malam dengan 20 presentasi dan rasa lelah yang selalu menyurutkan semangatnya untuk melanjutkan pekerjaannya. Beruntung Merry Riana memiliki seorang partner yang sangat setia menemani, memberikannya semangat dan motivasi untuk terus berjuang dan berusaha dalam mempertahankan hidup dengan bekerja mencari nafkah untuk menghidupi dirinya sendiri.
Tak sia-sia. Dari semua pekerjaan yang ia jalani membawanya kedalam masa keemasannya. Dalam usia 26 tahun, ia bisa mendapatkan penghasilan finansial satu juta dolar, berhasil menjadi miliader muda, dan sukses mengembangkan organisasinya yaitu Merry Riana Organization (MRO) di Singapura, meraih beberapa penghargaan diantaranya Star Club President, Top Rookie Consultant of The Year Award, Top Manager of The Year Award dan Agency Development Award. Selain itu, tahun 2006 Marry Riana dianugrahi Nanyang Outstanding Young Alumni Award oleh rektor NTU, kemudian pada tahun 2008 dianugerahi Spirit of Enterprise Award sebagai seorang pengusaha bisnis paling sukses di Singapura dan beberapa penghargaan lainnya.
Jurus-jurus Merry Riana untuk sukses adalah 1) siapapun berhak sukses, 2) jangan pernah takut gagal, 3) berusahalah menjadi berbeda, 4) jeli dalam mengamati konsep kerja, 5) menghargai proses dan lihatlah hasilnya, 6) kebebasab fianansial-visi yang jelas, 7) disiplin adalah sebuah keharusan, 8) miliki passion, 9) peka pada peluang, 10) berhemat dan menabung dan 11) kekuatan iman.
Kelebihan dari buku ini adalah terdapat kata-kata yang menginspirasi dan memotivasi pembaca untuk terus semangat berjuang mempertahankan hidup meski dalam keterbatasan. Selain itu pemulis juga menggunakan bahasa yag mudah dimengerti dan penempatan settingnya sangat detil. Sedangkan kekurangannya buku ini adalah halamannya cukup tebal, ada beberapa judul yang cerita di dalamnya hampir sama dan membuat pembaca merasa bosan karena intinya sama saja.